Sang Legenda Ian Antono Akhirnya Merilis Album Solo

RollingStone – Jakarta, Batang demi batang rokok terus dihisap Ian Antono di belakang panggung Rolling Stone HQ, Ampera, Jakarta pada akhir Mei lalu. Garis wajahnya menggambarkan kegugupan.

Empat setengah dekade bermusik—merancang cetak biru musik rock Indonesia bersama God Bless hingga memproduseri Iwan Fals, Duo Kribo, Gito Rollies, Ikang Fawzi, Nicky Astria, Anggun C. Sasmi, dan lainnya sudah pernah dilakukan—namun musisi berstatus legenda ini masih saja gugup. Dalam hitungan menit, ia akan naik pentas.

Alasannya konkret: malam itu adalah peluncuran album solo perdananya yang bertajuk Ian Antono Song Book I. Apalagi sang istri, Titiek Saelan, sempat membocorkan pada konferensi pers beberapa jam sebelumnya: “Dari dulu saya sudah bilang ke Ian untuk rilis album solo, tapi dia selalu merasa tidak percaya diri. Akhirnya sekarang mau, itu pun setelah dipaksa.”

Walau begitu, Ian tetap enggan menganggap album Ian Antono Song Book I sebagai sesuatu yang luar biasa. “Song Book adalah album yang sederhana, karena tujuan saya juga sederhana: mengumpulkan karya,” ungkapnya.

Merupakan kisah klise bin klasik bahwa krusialnya budaya pengarsipan terlambat disadari di Indonesia, tak terkecuali dalam hidup Ian Antono. “Selama berkarier di musik, saya tidak pernah mendokumentasikan karya cipta saya dalam bentuk apa pun. Sampai kewalahan untuk mengingat-ingat dan mengumpulkan karya ciptaan saya sendiri,” ujarnya mengakui.

Ian Antono Song Book I merupakan tahap awal pendokumentasian ratusan karya musik Ian dalam bentuk album—memuat imajinasi ulang lagu-lagu ciptaannya dengan kehadiran penyanyi tamu—yang bakal dirilis berseri dengan judul besar Song Book. Proyek ini nantinya akan berlanjut dengan Ian Antono Song Book II, III dan seterusnya dalam rentang waktu tak terbatas.

Ide segar di industri musik Indonesia ini lahir dari buah pikir Ian Antono bersama label rekaman demajors Independent Music Industry yang bertugas mengedarkan album tersebut ke seluruh penjuru negeri.

Ian Antono akhirnya dipanggil untuk naik ke atas panggung oleh Ronal Surapradja yang bertindak sebagai pembawa acara. Bersama para musisi pengiring—di antaranya adalah anak Ian sendiri, bassist Rocky Antono—Ian menyuguhkan hampir seluruh lagu pada album.

Lagu yang telah ditunjuk sebagai single, “Uang”, terpaksa tidak dibawakan karena Syaharani sang penyanyi tamu berhalangan hadir. Penggantinya berformat audiovisual: video musik lagu tersebut diputar untuk pertama kali pada malam itu. Disutradarai oleh Kunun Nugroho, video musik ini menonjolkan sosok Ian Antono sebagai figur belakang layar—konsepnya adalah dengan meminta Ian memerankan seorang ahli boneka yang sedang pentas.

Sisa sembilan lagu yang ada dalam album dibawakan semua, dengan penyanyi tamu masing-masing. Ada Koming Surya untuk “Gersang” dan “Saksi Gitar Tua”, Rezi Pratomo—olah vokalnya mengingatkan terhadap suara Nicky Astria—untuk “Suara Cinta” dan “Tertipu Lagi”, Anindimas untuk “Lari”, dan Roy Jeconiah untuk “Neraka Jahanam” dan “Kepala Dua”. Ada pula dua nomor instrumental yang masing-masing berjudul “Kepada Perang” dan “Setan Jalanan”.

Klimaks terjadi ketika “Neraka Jahanam” dibawakan, dengan tamu kejutan Eet Sjahranie (“He’s my fucking hero, man,” kata Eet saat diminta berpendapat soal Ian) yang dapat dipastikan jauh lebih lincah dibanding orang-orang sepantarannya. Belum lagi suara serak Roy Jeconiah yang, secara nyaris mustahil, mampu menambahkan kepekatan aura rock terhadap lagu yang sebenarnya sudah beringas dari sananya.

Kurang ajarnya, Ian ternyata sudah menyiapkan satu kejutan lagi: Ahmad Albar, Donny Fattah, Abadi Soesman, dan Fajar Satritama kemudian tampil dengan identitas God Bless. Para penonton, tidak sedikit dari mereka yang menggemari God Bless dan mungkin sudah mengharapkan terjadinya kejutan ini, kontan bersorak-sorai gembira.

Yang membuat lebih menyenangkan lagi adalah fakta bahwa “Rumah Kita” dibawakan sebagai lagu pertama, yang artinya tidak bakal ada formula penutupan usang di mana lagu tersebut dimainkan terakhir. Dua lagu dimainkan menyusul, yaitu “Serigala Jalanan” dan “Semut Hitam”.

Sebagai pengisi acara pamungkas, God Bless memainkan tiga lagu saja pada malam itu. Kehadiran rekan bandnya, bahkan sampai tampil bersama, seolah menjadi restu bagi Ian untuk terus mengumpulkan dan mendokumentasikan karya-karyanya.

Tidak hanya menjadi konsumsi penikmat musik masa kini, keputusan Ian untuk melaksanakan proyek Song Book ini akan memberikan dampak dan keuntungan besar bagi penikmat musik depan. Generasi mendatang jadi berkesempatan untuk mendengarkan dan tahu karya-karya Ian Antono, seperti apa sumbangsihnya terhadap musik Indonesia, atau sekadar menggali referensi untuk kegiatan bermusik mereka

sumber: RollingStone Indonesia

Iklan

6 thoughts on “Sang Legenda Ian Antono Akhirnya Merilis Album Solo”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s